Cara kerja kandang close house

iklan
CARA KERJA  KANDANG CLOSE HOUSE ?




Tulisan ditujukan kepada pemula dalam pengelolaan kandang tertutup.  Sebagian pengalaman penulis dalam menangani operasional ventlasi kandang tertutup dituangkan di dalam Blog ini.

Diharapkan segala kesulitan yang pernah dihadapi penulis ketika mengelola kandang tertutup serta kesulitan memahami dan menggabungkan antar teori pengelolaan ventilasi kandang tertutup yang diberikan oleh tentor satu dan tentor yang lainnya tidak terjadi lagi terhadap para pembaca.

Belajar ventilasi pada kandang tertutup mirip seperti belajar program aplikasi komputer (MS office), yaitu belajar teori sambil menerapkannya adalah langkah terbaik.

Jika ingin segera memahami kandang tertutup seyoyanya para pengelola harus menyediakan waktu untuk melakukan pengamatan sendiri, bisa 24 jam, berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan bulan.  Menguji setiap pemikiran yang didasari oleh pemahaman yang cukup merupakan hal yang sangat penting.

Dengan memahami tulisan ini, digabung dengan latihan disertai pengamatan-pengamatan lapangan yang baik, maka para pembaca akan lebih mudah untuk mengembangkan  pengetahuannya atas operasional kandang tertutup.

COGITO ERGO SUM
(Saya berfikir oleh karenanya saya ada)

Terimakasih kepada semua pihak yang telah memberi penjelasan panjang lebar mengenai operasional ventilasi kandang tertutup.  Semoga tulisan ini dapat memberi manfaat seperti yang diharapkan sewaktu ditulis.



PENDAHULUAN

Menurut sebagian praktisi, close house atau kandang tertutup merupakan sesuatu yang exclusif.  Dulu penulispun merasakan hal yang sama.  Mengapa demikian ?. Karena kurang pahamnya penulis mengenai prinsip –prinsip dasar operasional close house.

Jika didalami, ke-exclusifan close house sebenarnya terlu berlebihan. Pada dasarnya clouse house sama saja dengan open house.  Hanya kebiasaan open house yang tidak memikirkan tentang iklim secara menyeluruh, maka begitu mengoperasikan clouse house agak kagok. Jika hal ini berlanjut maka tentu akan menimbulkan efek negatif terhadap pertumbuhan dan produktifitas ayam.

Untuk menghindari konotasi berlebihan, marilah kita tidak lagi menggunakan istilah close house tatapi mulai sekarang kita sebut kandang tertutup saja.

Perhatikan simulasi sederhana kandang tertutup dibawah ini :


Dari simulasi tersebut kita dapat melihat beberapa hal :
a).  Dalam kandang     = ada ayam, feses, air, angin
b).  Luar kandang        = ada masuknya angin dan keluarnya angin serta adanya sinar dan radiasi
      matahari
c).  Cooling pad yang biasanya mengandung air
Kondisi tersebut mengingatkan kita pada ilmu-ilmu dasar, yaitu : Biologi, Fisika, dan Kimia.  Ilmu lain yang tidak boleh ketinggalan adalah ilmu Tingkah laku ternak.

Terkait dengan hal ini, jika ingin berhasil dalam pengelolaan ayam dalam kandang tertutup, maka pasti kita tidak hanya harus menguasai management pemeliharaan ayam saja tetapi juga harus menguasai beberapa ilmu dasar yang terkait.

BAB I
LINGKUNGAN AYAM

Sebelum mempelajari kandang tertutup, marilah  kita pahami terlebih dahulu lingkungan yang cocok untuk kehidupan ayam.

Lingkungan ideal bagi pertumbuhan dan produkstifitas ayam adalah suhu dan kelembababan yang tepat.  Banyak pakar yang menyampaikan terkait suhu dan kelembaban ideal bagi ayam.  Salah satunya adalah Keith J. Rosario, yang menyarankan agar suhu efektif pada kisaran 200C – 270C dengan kembaban di bawah 50%.  Menurut Chavalchini, Cerolini, Mariani (1990), suhu lingkungan untuk dapat mempertahankan suhu tubuh ayam tetap setabil adalah 260C – 270C.
Namun berdasarkan pengalaman penulis, suhu dan kelembaban ideal bagi ayam adalah disesuaikan dengan tujuan pemeliharaan ayam.  Misalnya, suhu ketika periode brooding yang digambarkan sebagai berkut :



Contoh lain, suhu lingkungan ketika periode bertelur menurut penulis antara 180C - 200C (dalam pengertian suhu efektif bukan suhu terbaca).  Untuk memperjelas hal ini pera pembaca dapat melihat blog saya yang berjudul :

1. JANGAN REMEHKAN DEBU DALAM KANDANG
2. PERANAN SUHU DAN KELEMBABAN TERHADAP PRODUKTIFITAS...

Namun semuanya itu, muaranya adalah suhu rectal harus dalam keadaan normal, yaitu : 40,5 ºC (rendah) dan 41,5 ºC (tinggi). Perhatkan blog saya yang lain :
BAGAIMANA MENCIPTAKAN PROSES NORMAL METABOLISME AY...
Selain lingkungan ideal, ayam juga membutuhkan udara segar untuk bernafas, pakan dan air minum untuk hidup, pertumbuhan dan produksi, serta pemanas yang dibutuhkan semasa brooding. Ayam juga akan mengeluarkan feses, gas buang berupa H2O dan CO2 serta panas metabolik.  Pemanas/Brooder membutuhkan Oksigen untuk pembakaran dan menyisakan CO2 gas. Feses dan air yang disekresikan oleh ayam akan ditampung oleh litter, kemudian mengalami penguraian oleh bakteri pengurai menjadi amoniak dan H2O.  Seluruh rangkaian proses ini terjadi dalam satu ruangan tertutup. Ketidak normalan supaly oksigen dapat menimbulkan bebagai masalah penyakit metabolik, seperti Acites, Prolapsus dan penyakit infeksius lain sebagai ikutan seperti Enterities, IB, CRD dan lainnya.  Perhatikan Blog saya lainnya :


1. AYAM MODERN
2. HAL MENDASAR YANG PATUT DIPAHAMI PETERNAK AYAM BRO...
3. MENJAGA DAN MENINGKATKAN SISTIM KEKEBALAN TUBUH AY...
4. MENJAGA SISTIM PENCERNAAN UNTUK MENJAGA DAN MENING...
5. MENCIPTAKAN pH USUS TETAP NORMAL UNTUK MENJAGA SIS...
6. BAGAIMANA MENCIPTAKAN PROSES NORMAL METABOLISME AY...
7. ACITES PADA AYAM
8. NECROTIC ENTERITIS PADA AYAM

Untuk itu perlu dipkirkan suplay udara agar kebutuhan udara untuk metabolisme ayam dan pembakaran untuk pemanas dapat berjalan sempurna.  Selain itu, perlu dipikirkan pengeluaran gas buang dari dalam kandang agar tidak mengganggu proses kehidupan ayam.

Pada saat memasukkan udara dalam kandang, kita dihadapkan pada suhu dan kelembaban alam sekitar.  Demikian juga pada saat pengeluaran gas buang, kita dihadapkan pada berapa volume gas buang yang harus dibuang.  Radiasi panas sinar matahari dan panas yang dihasilkan oleh lampu penerangan dalam kandang merupakan tantangan tersendiri yang harus diperhitungkan.

Seluruh tantangan tersebut harus dipikirkan oleh pengelola kandang tertutup  agar dalam pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan baik tanpa menimbulkan masalah berikutnya.


BAB II

KONSEP VENTILASI DAN EVAPORATING COOLING

A.   KONSEP VENTILASI

•         Pertama :
Berapa kebutuhan udara segar?. Kebutuhan udara harus disesuaikan dengan beban kandang. Beban kandang yang dimaksud adalah kebutuhan volume udara per-jam yang dibutuhkan  ayam berdasarkan total bobot badan. Umumnya menggunakan satuan m3/jam atau dengan satuan CFM (cequare feet per-menit).
•         Kedua :
Kebutuhan udara untuk memindahkan gas buang dan udara panas. Pemindahan udara ini dikenal dengan istilah Exchange Rate. Exchange rate normal adalah 60 detik, dan yang terbaik adalah 45 detik.
•         Ketiga :
Kebutuhan udara berefek pada kecepatan udara dalam kandang.  Dengan satuan m/s atau fpm (feet per-menit).  Kecepatan angin akan berpengaruh pada whind chill effeck.
•         Keempat :
Whind chill effect merupakan istilah terkait suhu efektif.
·         Kelima :
Kebutuhan udara yang dikenal saat ini adalah kebutuhan udara minimal.  Kebutuhan udara minimal ini sesuai dengan petunjuk produsen strain bersangkutan. Contoh :
–        Hubbard Flex = 8m3/Kg/jam
–        Cobb               = 6m3/Kg/jam
–        ISA Brown     = 4m3/Kg/jam

B.   KONSEP EVAPORATING COOLING

•         Pertama :
Evaporating cooling sistem hanya bertujuan untuk menurunkan suhu dalam kandang. Tetapi memiliki resiko minimbulkan kenaikan kelembababan dan dapat membentuk titik titik air pada litter (moisture).
•         Kedua :
Setiap penurunan suhu 10C dengan menggunakan evaporating cooling sistem akan meningkatkan 5% kelembaban.
•         Ketiga :
Kelembaban (%) ditambah suhu dalam satuan (Fahrenhaid) akan membentuk Heat Indek (HI).  HI >160 akan menimbulkan stress, dan HI >180 akan menimbulkan kematian.   Perhatikan tabel beriktu (sumber : Presentasi Gemilang Citra Indo, Januari 2005) :




BAB III
BEBAN KANDANG DAN KEBUTUHAN UDARA MINIMUM KANDANG TERTUTUP

Setelah memahami lingkungan ayam pada kandang tertutup dan konsep ventilasi serta cooling sistem-nya, maka kita akan melangkah maju ke hal berikutnya.

Apa itu beban kandang dalam kaitannya dengan kebutuhan udara segar?.  Beban kandang yang dimaksud dalam hal ini adalah total udara minimum yang dibutuhkan untuk mensuport sejumlah berat total ayam yang ditanggung oleh kandang bersangkutan.

Untuk memahami hal tersbut, sebaiknya kita mulai latihan dengan menghitung kebutuhan udara minimum untuk beban maksimum.  Jadi kita ambil jumlah ayam terbanyak dengan bobot badan tertinggi untuk standart bobot badan strain terkait.

Sebagai contoh :
–        Strain Flex
–        Jumlah ayam total betina dan jantan  7.700 + 770 = 8.470 ekor
–        Bobot badan rata-rata  2,49 Kg/ekor
Maka total bobot badan yang ditanggung oleh kandang tersebut adalah : 21.090,3 Kg

Selanjutnya, berapa kebutuhan udara segar minimum?. Kebutuhan udara segar minimum untuk kandang clouse selalu terkait dengan dua hal : 1). Beban kandang, dan  2). Kebutuhan udara minimum per-KgBB Per-Jam.
Kebutuhan udara minimum bergantung pada strain bersangkutan, misalnya :
–        Hubbard Flex = 8m3/Kg/jam
–        Cobb               = 6m3/Kg/jam
–        ISA Brown     = 4m3/Kg/jam

Apabila kita ingin mengetahui berapa kebutuhan udara minimum dari ayam tersebut di atas.  Maka perhitungannya adalah :

-          8 m3/KgBw/Jam x 21.090,3 KgBw = 168.722,4 m3/Jam,  atau   
-          4,709 ft3/KgBw/menit x 21.090,3 = 99.314,22 ft3/menit (CFM)

Jadi kebutuhan udara segar minimum kandang bersangkutan adalah :
168.722,4 m3/Jam  atau 99.314,22 CFM.


BAB IV
SUPLAY UDARA SESUAI KEBUTUHAN BEBAN KANDANG

Jika kita telah memahami kebutuhan udara minimum sesuai beban kandang yang ditanggung, maka kita dapat melajutkan pelajaran berikutnya.  Yaitu menghitung suplay udara yang diperlukan.
Dalam hal ini pembahasan tetap pada posisi kebutuhan udara minimum pada beban kandang maksimum.
Langkah-langkahnya adalah :

1.      Pertama :
 Perhatikan luas penampang kandang (lebar x tinggi rata-rata kandang).
•         Misalnya : lebar 14 m x tinggi rata-rata 2,5 m



•         Luas penampang menjadi = 35 meter2.

2.      Kedua :
 Berapa kecepatan maksimum yang dapat dicapai jika seluruh kipas dinyalakan.
•   Misalnya dari hasil observasi kecepatan angin kandang dalam satu garis penampang didapatkan data sebagai berikut (satuam m/s) :


•         Jika dihitung rata-ratanya didapatkan hasil 2,5 m/s

3.     Ketiga :
Kalikan luas penampang dengan kecepatan angin maksimum yang dicapai
•         Yaitu : 35 m2 x 2,5 m/s = 87,5 m3/s,
•         Jika diubah menjadi per-jam, maka perhitungannya adalah :
85,7 m3/s  x 3.600 s = 308.520 m3/jam atau 181.615,44 CFM

4.     Keempat :
Bandingkan kemampuan ventilasi untuk mensuplay udara maksimum dalam kandang dengan kebutuhan udara kandang.
Hasilnmya adalah :
•     168.722,4 m3/Jam (lihat Bab III) < 308.520 m3/jam
•     Artinya = kemampuan maksimum ventilasi kandang untuk mensupaly udara segar minimal adalah lebih besar dibandingkan kebutuhannya.

BAB V
PEMAHAMAN KECEPATAN ANGIN TERHADAP WIND CHILL EFFECT DAN EXCHANGE RATE

Sebelum membahas kebutuhan kipas, ada baiknya kita lompat kepada pemahaman kecepatan angin terkait dengan Wind Chill Effect dan Exchange Rate.

A.     Wind Chill Effect

Setiap pergerakan angin pada kelembaban tertentu akan memberikan perbedaan antara suhu efektif yang dirasakan ayam dan suhu terbaca.  Sebagai contoh, “Jika pada siang hari terik matahari begitu menyengat, ada dua orang berdiri dilapangan dimana seorang (“A”) mendapat hembusan angin dengan kecepatan 2m/s dan yang seorang lagi (“B” ) tidak mendapatkan hembusan angin, maka si “A” akan merasa lebih sejuk dibandingkan si “B” meskipun termometer menunjukkan suhu yang sama.   Keadaan lebih sejuk yang dialami oleh “A” ini disebut dengan wind chill effect.

Wind Chill effect secara sederhana dapat disampaikan sebagai berikut :



Dengan memperhatikan tabel tersebut, kita tinggal mengurangi suhu terbaca dengan konstanta yang berada pada tabel tersebut di atas.

Jadi pergerakan udara dengan kecepatan tertentu akan membantu membebaskan beban panas tubuh ayam, lihat ilustrasi di bawah ini :



Kecepatan angin ternyata akan memberikan efek yang berbeda pada kelembaban yang berbeda  (Management Guide Cobb 1985).  Merujuk pada management guide tersebut kita dapat menentukan suhu efektif dari variable suhu, kelembaban dan kecepatan angin dengan menggunakan persamaan regresi sebagai berikut :

Suhu Efektif = (4,2059-0,0818) + ((0,72089-0,02468)*T0C + ((0,082386-0,006013)*RH%) +
                        ((-3,8936-0,1359)*V m/s ))

Dengan demikian dapat dimengerti, bahwa jika berhadapan dengan suhu maka kita harus berfikir wind chill effect.

B.     Exchange Rate
Exchang rate adalah jumlah waktu yang diperlukan untuk memindahkan seluruh volume udara dalam sekali pindah.
Berikut adalah ilustrasi perpindahan udara dalam bentuk gas buang  (balok warna merah transparan) dari sejumlah udara dalam balok warna kuning :



Perpindahan udara paling cepat terjadi pada kecepatan angin yang lebih tinggi, dengan syarat volume udara yang dipindah adalah sama.

Secara matematis Exchange rate = Volume Ruangan : Jumlah Suplay Udara



Misalnya :
Clouse house dengan ukuran :
-          Lebar 14 meter
-          Tinggi 2,5 meter
-          Panjang 120 meter
-          Kecepatan angin rata-rata hasil observasi 2,5 m/s




Exchange ratenya adalah :
•         Suplay udara   = 2,5 meter x 14 meter x 2,5 m/s =  87,5 m3/s,
Jika diubah menjadi per-jam, maka perhitungannya adalah : 85,7 m3/s  x 3.600 s = 308.520 m3/jam
•         Volume kandang = 2,5 meter x 14 meter x 120 meter = 4.200 m3
•         Exchange rate       = 4.200 m3 / 308.520 m3/jam =  0,0136134 jam
= 49 detik

Perhitungan Exchange Rate sangat terkait dengan perpindahan gas buang dalam kandang dan kecepatan masuknya suplay udara segar ke dalam kandang.
Jadi jika berhadapan dengan semua gas buang dalam kandang clouse dan atau suplay oksigen, maka kita harus berfikir exchange rate.


BAB VI
MENENTUKAN JUMLAH KIPAS

Dari seluruh rangkaian yang telah kita pelajari dari Bab I sampai Bab III, maka sampailah kepada pelajaran berikutnya, yaitu : bagaimana kita mengambil keputusan untuk mengoperasikan kipas pada sistim ventilasi kandang tertutup.

·           Pertama :  Observasi kapasitas kipas
1.    Hidupkan satu kipas, kemudian catat hasil observasi :
a.         Kecepatan angin dalam kandang pada posisi kanan, tengah dan kiri pada ketinggian 40 cm dan 120 cm, dengan satuan m/s.
b.         Kecepatan angin tepat di depan kipas (diukur dari dalam kandang).  Pengukuran dilakukan pada 9 titik, dengan satuan ft/menit.
c.         Kecepatan angin yang melalui pad (ukur cooling pad dari luar kandang dengan posisi alat menempel pada permukaan pad).  Pengukuran dilakukan minimal 8 titik dengan satuan m/s.
d.        Ukur kecepatan angin pada in-let (biasanya in-let berjarak minimal 0,5 meter dari pad) dengan satuan m/s.  Sampel minimal 8 titik.
Hasil pengukuran dihitung rata-rata, dan CV% - nya.

2.  Dengan cara yang sama, hidupkan dua kipas, tiga kipas dan seterusnya.  Catat hasilnya.

3.    Selanjutnya hasil perhitungan dimasukkan pada tabel.  Contohnya sebagai berikut :



Data yang dimasukkan pada tabel tersebut adalah data yang telah memiliki CV di bawah 20%.  Jika belum mendapatkan CV di bawah 20%, maka posisi kipas yang hidup harus diubah atau posisi nest (jika ada) diubah atau apa saja yang mampu untuk menciptakan kecepatan angin dengan CV% di bawah 20%.

Nah, dengan selesainya observasi tersebut kita telah memiliki standart kecepatan angin untuk kandang tertentu berdasarkan jumlah kipas yang hidup.

Lanjutkan langkah berikut.  Cari kapasitas kipas sesunggunya, yaitu dengan cara mengalikan kecepatan angin dengan luas penampang serta  3.600.  Misalnya lebar kandang 14 meter dan tinggi rata-rata kandang 2,5 meter, maka hasilnya adalah sebagai berikut :



Jadikan tabel tersebut sebagai pedoman baku untuk kandang yang telah diobservasi.  Penyimpangan dari tabel baku berarti ada penyimpangan yang harus segera diatasi.


Untuk itu, observasi seyogyanya dilakukan sebelum kandang diisi dan seluruh sistim ventilasi dalam keadaan yang normal.  Ketidak normalan ditandai dengan CV di atas 20%.

·           Kedua : Tentukan kebutuhan udara minimum berdasarkan beban kandang

-      Ingat Bab III.
-      Contoh :
Misalnya kita memiliki data sebagai berikut :



Berapa kipas yang akan digunakan ?
Kita tidak boleh tergesa-gesa menggunakan data tersebut, tetapi harus memiliki data riil yang akurat untuk menentukan jumlah kipas yang dimaksud.

Sebagai contoh :”ternyata bobot badan jantan dan betina umur 9 minggu yang ada tidaklah standart, tetapi+5% di atas standart”.  Jadi data berubah menjadi sebagai berikut :



Untuk perhitungan tidak lagi menggunakan dasar umur 9 minggu tetapi umur 10 minggu.  Nah jadi perhitungannya adalah sebagai berikut :

-          11.702 Kg x 8 m3/KgBB/Jam = 93.618 m3/jam
-          Jadi kebutuhan udaranya adalah 93.618 m3/jam.
-          Kemudian perhatikan tabel hasil obeservasi yang pernah dibuat sebelumnya



Dari data ini dapat ditentukan perkiraan jumlah kipas yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan udara minimum, yaitu 3 kipas (kipas 2-4-7 dihidupkan).

Sampai disini kita telah mampu menentukan jumlah kipas untuk suplay kebutuhan udara minimum.

·           Ketiga :  Periksa winchil effeck yang tercipta dari kecepatan angin yang ada
-     Untuk memeriksanya, kita dapat menggunakan tabel sederha yang pernah kita pelajari
     sebelumnya :



-          Melihat data bahwa jumlah 3 kipas akan mampu menciptakan angin dalam kandang sebesar
        1 m/s, maka whind child effect yang diciptakan adalah sebesar 1,30C.
-          Jadi kipas akan mampu bekerja pada 300C + -1,30C = 31,30C.
-         Tetapi kita tahu bahwa suhu efektif dipengaruhi oleh : 1). variable kelembaban udara dan 2).
       Variable kecepatan angin.

Coba kita hitung dengan sungguh-sungguh.  Gunakan persamaan regresi yang pernah dibahas pada bab sebelumnya.  Dengan menerapkan formula itu masukkan ke dalam Exell untuk memilih berbagai opsi yang mungkin.  Hasilnya adalah seperti  contoh sebagai berikut :






Memperhatikan data tersebut terlihat bahwa kipas operasi 3 buah masih mampu menciptakan suhu efektif di bawah 300C (ring RH% 69 – 90).

Mana yang tepat ?.

Untuk itu pertimbangkan HI (Ingat bab sebelumnya)

·           Keempat : Hitung Exchang Rate
-       Seluruh gas buang harus dikeluarkan dari kandang dalam waktu yang cepat agar tidak
      mengganggu kehidupan ayam.
-       H2O gas pembentuk kelembaban juga harus segera dibuang, demikian juga CO2 dan NH3
      gas.
-       Hitunglah Exchange Rate untuk mengakomodasi permasalah tersebut.
-       Di Bab VI ini kita telah memiliki data :
o   Lebar kandang                                                =   14    meter
o   Tinggi rata-rata penampang kandang              =     2,5 meter
o   Panjang kandang                                             = 120    meter
o   Jadi volume kandang adalah = 4.200 m3

o   Jumlah kipas yang digunakan                         =     3    buah
o   Kecepatan angin yang tercipta                        =     1    m/s
o   Jadi suplay udara adalah
1 m/s x 2,5 m x 14 m x 3.600                          = 126.000 m3/jam
Jadi suplay udara adalah =      126.000 m3/jam                                                     
-          Exchange rate-nya adalah :
(4.200 m3 : 126.000 m3/jam) x 3.600 = 120 detik.

Dari pelajaran sebelumnya dijelaskan bahwa Exchange rate yang baik adalah 60 detik.  Karena exchange rate hitung adalah 120 detik, berarti ada udara yang masih berhenti 60 detik.  Jika hal ini berlangsung selama 1 jam, berarti ada udara tertahan sebanyak :
3.600 detik : 60 detik = 60 kali lipat udara kotor yang tertahan dalam kandang.

Bagaimana menghindari tumpukan gas buang dalam kandang tanpa mengganggu suplay udara minimum yang seharusnya dan tidak mengganggu whind chill effect ?.
Salah satu metode adalah dengan cara intermitten kipas.  Intermitten yang dimaksud adalah 3 kipas + Kipas tambahan, dimana kipas tambahan dihidupkan pada interval waktu dan lama hidup tertentu.

Bagaimana mengoperasionalkan kipas tambahan untuk intermitten ?.

Ambilah contoh pada keadaan di atas, dimana penggunaan kipas minimum adalah 3 buah.
-       Hidupkan kipas 3 buah.
-       Berdirilah di 2/3 dalam kandang.  Rasakan udara disekeliling anda, jika dirasa pengap dan tidak nyaman hidupkanlah tambahan kipas secara bertahap.  Dalam contoh kali ini kita tambah 3 kipas lagi.  Jadi total kipas adalah 6 buah.
o   Jam ke 0 adalah saat dimana kita hidupkan tambahan kipas.
o   Rasakan keadaan udara, misalnya 5 menit berikutnya udara sudah normal.  Pada saat itulah kipas tambahan dimatikan.
o   Rasakan kembali udara pada posisi yang sama.  Misalnya dalam waktu 20 menit terasa pengap, maka hidupkan kembali tambahan kipas tersebut.
-      Mari kita cek exchange rate jika 6 kipas dihidupkan, lihat data hasil observasi sebelumnya, yaitu :



Dari tabel di atas kita tahu bahwa 6 kipas hidup memberikan efek kecepatan angin 2 m/s.  Jika dihitung exchange rate-nya adalah 60 detik.  Jadi dalam 60 detik  keadaan udara sekitar seharusnya telah berganti dengan udara segar.  Artinya adalah 3 kipas minimum + 3 kipas tambahan akan mampu mengganti udara kotor menjadi udara segar dalam waktu 60 detik.

Dalam pelaksanaannya, hitungan exchange rate akan terealisasi apabila daya dukung sumberdaya mekanik farm mampu untuk menterjemahkan dan mensiasati peralatan kandang tanpa menimbulkan kerusakan.

·        Kelima : Periksa kembali penggunaan kipas intermitten
Penggunaan kipas tambahan tentu akan menaikkan jumlah suplay udara.  Hal ini kurang masalah, karena hitungan kita terhadap suplay udara sejak awal selalu menggunakan kipas minimum.  Hanya saja tambahan kipas berimplikasi pada :
a.       Konsumsi daya listrik akan meningkat
Kenaikan daya listrik tentu akan menimbulkan ketidak efisien-an biaya pemeliharaan.  Semakin lama rentang waktu hidup kipas tambahan dan semakin banyak kipas tambahan berarti kita telah meningkatkan biaya listrik.
b.      Kecepatan angin dalam kandang meningkat :
Dengan meningkatnya kecepatan angin dalam kandang akan meningkatkan whind chill effect dan menurunkan suhu efektif.
Pada umur tertentu ayam belum tentu siap menerima kecepatan angin yang tinggi.  Hal ini dikarenakan whind chill effect teoritis tidak mesti sama seperti yang sebenarnya terjadi dilapangan.  Contoh pada ayam yang masih sangat muda tentu akan berbeda dengan ayam yang telah dewasa.
Untuk itu, adalah sangat bijaksana bila kita tetap mengontrol kondisi ayam dalam kandang pada saat kipas tambahan dijalankan.  Perhatikan apakah ayam kedinginan atau tidak.
Tiap waktu (siang, sore, malam dan pagi), tiap beda cuaca (cerah, mendung dan hujan) tentu akan berbeda dalam menjalankan kipas tambahannya.  Mengapa ?.  Karena suhu dan kelembaban berbeda.
         
·           Keenam : putuskan penggunaan kipas
-   Untuk mengambil keputusan penggunaan kipas, kita harus menggunakan data berantai tersebut
   di atas. Lihatlah data di atas, bahwa dengan menggunakan 3 kipas :
o   Kecepatan angin dalam kandang adalah 1 m/s
o   Volume udara yang masuk dalam kandang adalah 126.000 m3/jam
o   Kebutuhan udara beban kandang adalah 93.618 m3/jam

Keadaan ini memberi isyarat bahwa 3 kipas yang hidup cukup untuk mensuplay udara sesuai dengan beban kandang dan cenderung berlebihan.

o   Tiga kipas tersebut mampu mengatasi suhu 31,30C dan maksimum 330C (dengan catatan suhu 330C pada kelembaban 69%).

o   Akan tetapi 3 kipas tersebut tidak mampu untuk mengatasi pembuangan udara kotor.  Buktinya adalah exchange rate dan hasil observasi yang telah dilakukan menunjukkan hasil yang demikian.

Untuk mensiasati keadaan ini, dilakukan penambahan 3 kipas secara intermitten. Yaitu 3 kipas “On” selama 20 menit, kemudian dilanjutkan dengan 6 kipas “On” selama 5 menit.  Demikian seterusnya.

Penambahan jumlah kipas hidup, interval waktu tambahan kipas hidup dan hidupnya kipas tambahan harus dipertimbangkan secara mendalam dengan menggunakan langkah kelima.



BAB VII
IN-LET, OUT-LET DAN STATIC PRESSURE

In-let merupakan tempat masuknya angin sedangkan out-let merupakan tempat keluarnya angin. Jika luas in-let dikurangi akan menaikkan kecepatan angin dan meningkatkan static pressure.



Sebaliknya jika luas in-let di perluas akan menurunkan kecepatan angin dan sekaligus menurunkan static pressure.

Apa yang dimaksud Static pressure ?
Static pressure adalah besaran (water colum dalam inchi atau pascal) yang menyatakan sebarapa berat exhouse fan bekerja.
-          Rendahnya static pressure berarti kipas akan bekerja lebih ringan
-          Tingginya static pressure berarti kipas akan bekerja lebih berat.



Static pressure juga berhubungan dengan kecepatan angin, semakin tinggi kecepatan angin dalam kandang semakin tinggi pula static pressure-nya dan sebalinya semakin rendah kecepatan angin semakin rendah pula static pressure-nya.




Semakin tinggi kecepatan angin, maka semakin tinggi static pressure dan lebih lanjut akan menambah berat kerja kipas.  Kerja kipas yang berat berimplikasi pada meningkatnya konsumsi daya listrik :



Jika volume udara yang melalui in-let tidak sama dengan out-let, maka akan menimbulkan masalah :
1). In-let < Out-let : Kecepatan angin melalui in-let dan pad akan lebih cepat dan static pressure akan tinggi, akibatnya kerja kipas semakin berat dan efisiensi saturasi pad akan menurun.  Jika efisiensi saturasi menurun maka whind chilld efect yang ingin dicapai semakin kecil.
2). In-let > Out-let : Kecepatan angin melalui in-let dan pad akan rendah dan static pressure akan rendah, akibatnya kerja kipas semakin ringan dan efisiensi saturasi pad akan meningkat.  Jika efisiensi saturasi meningkat, maka penurunan suhu dengan menggunakan cooling pada akan mudah di capai.
Tetapi akan terjadi efek botol, dimana angin akan mengalami turbulen di daerah belakang (daerah sebelum kipas).  Hal ini menimbulkan banyak kerugian :1). Daerah belakang akan lebih lembab, 2). Gas beracun daerah belakang lebih besar, 3). Suhu daerah belakang semakin tinggi.

Bagaimana menghitung luas pad dan in-let agar tidak menimbulkan masalah dalam operasional clouse house :

Sebagai contoh :
o   Lebar kandang                                                =   14    meter
o   Tinggi rata-rata penampang kandang              =     2,5 meter
o   Panjang kandang                                             = 120    meter
o   Jadi volume kandang adalah = 4.200 m3

o   Jumlah kipas yang digunakan                         =     7    buah
o   Kecepatan angin yang tercipta                        =     2,5    m/s (9.000 m/jam)
o   Jadi kapasitas total kipas adalah
2,5 m/s x 2,5 m x 12 m x 3.600                       = 270.000 m3/jam
o   Jadi kapasitas kipas 7 kipas  adalah    = 270.000 m3/jam   

Hitung luas pad :

1).  Tentukan kecepatan angin dan static pressure yang ingin dicapai di daerah pad :



Jika kecepatan angin melalui pad disamakan dengan kecepatan angin dalam kandang yaitu 2,5 m/s,      maka static pressure yang melalui pad adalah >17,5 Pa (kecepatan angin pad kanan dan pad kiri)
dan yang bekerja dalam kandang adalah 11,5 Pa dengan efisiensi saturasi mencapai 82%.

Sehingga total static pressure in-let = >17,5 Pa + 11,5 Pa = >29 Pa





Karena total pressure di in-let sangat besar, maka kecepatan angin yang melalui pad sebaiknya di turunkan menjadi 1,63 m/s, dengan harapan total static pressure in-let menjadi 26 Pa.

Karena kecepatan angin in-let diturunkan menjadi 1,63 m/s maka efisiensi saturasi meningkat menjadi 86%.

Selanjutnya kita putuskan untuk menggunakan kecepatan angin yang melalui pad adalah 1,63 m/s saja agar static pressure turun dan efisiensi saturasi meningkat.

Hitungan luas pad menjadi :
Luas pad = 270.000 m3/jam : (1,63 m/s x 3.600) = 46,01 m2

Hitung luas in-let :

Hitungan luas pad menjadi :
Luas pad = 270.000 m3/jam : 9.000 m/jam = 30,00 m2


BAB VIII
PEMAHAMAN EVAPORATING COOLING

Evaporating Cooling Sistem merupakan salah satu bagian dari sistim ventilasi yang bertujuan untuk mendukung sistim pendingin.

Ada tiga jenis Evaporating cooling sitem yang dipakai pada kandang tertutup, yaitu :
·         Fogging nozzles
·         Fogging pads
·         Recirculation systems



Ketiga sistem tersebut sama-sama baiknya apabila diinstal, didisain dan dioperasikan dengan benar.
Sistim evaporating cooling yang dipakai di Breeding Farm Wonokoyo Group umumnya menggunakan Recirculation systems.

Bagaimana kerja evaporating cooling :
a.       Energi panas dibutuhkan untuk penguapan air
b.   Air diudara menyerap panas udara dan membentuk uap air. Air sebanyak 3,8 liter (1 galon) sanggup memindahkan panas sebanyak 8,700 Btu.
Untuk menurunkan suhu 10C pada kecepatan angin 1 m/s dibutuhkan air sebanyak 1 liter/jam.
c.       Setelah energi panas dipindahkan ke air, maka suhu udara akan menurun.


Pada keadaan udara kering, maka uap air yang dapat diikat oleh udara akan semakin banyak sehingga akan menaikkan potensi pendinginan.

Ingat, yang mendinginkan udara adalah uap air (bukan air).

Sebaliknya pada keadaan udara lembab, maka air yang dapat diikat oleh udara akan semakin sedikit sehingga akan menurunkan potensi pendinginan.

Dari konsep tersebut di atas dapat disadari bahwa setiap penurunan suhu terbaca akibat operasional evaporating cooling akan meningkatkan kelembaban.
Telah dibahas pada Bab II, bahwa Setiap penurunan suhu 10C dengan menggunakan evaporating cooling sistem akan meningkatkan 5% kelembaban.

Memperhatikan efisiensi saturasi sebagaimana tersebut pada diagram di bawah ini :




Maka kita dapat mengetahui bahwa :
1). Efisiensi saturasi akan menurun (berarti efek pendinginan juga turun) seiring dengan peningkatan kecepatan angin melalui pad.
2). Efisiensi saturasi akan meningkat (berarti efek pendinginan juga meningkat) seiring dengan penurunan kecepatan angin melalui pad.
3). Efek saturasi akan meningkat jika pad lebih tebal dibandingkan dengan pad yang lebih tipis.

Jadi evaporating cooling akan bekerja lebih efektif bila :
1). Pad lebih tebal
2). Kecepatan angin yang melalui pad lebih rendah
3). Kelembaban luar lebih rendah

    BAB IX
DEW POINT

Penggunaan cooling pad pada kandang tertutup selain dapat menurunkan suhu dan beresiko menaikkan kelembaban, juga memiliki resiko basahnya liter yang disebabkan oleh adanya dew point atau saturation point.

Dew point adalah titik suhu dimana akan mengakibatkan terjadinya pengembunan pada kelembaban tertentu.
Oleh sebab itu, pemahaman dew point atau saturation point sangat penting untuk diketahui oleh semua yang terlibat dalam operasional kandang tertutup agar mampu menghindari terjadi penggumpalan litter akibat litter yang basah.  Litter yang basah juga dapat meningkatkan terjadinya kenaikan kadar amoniak.

Untuk memudahkan operasional evaporating sistem dilapangan, dipaparkan grafik dew point sebagai berikut :



Contoh :
Jika ada udara dengan kelembaban 80% dengan suhu 300C maka akan terjadi proses pengembunan (dew) jika udara tersebut menyentuh permukaan/udara pada suhu 26,160C.

Penjelasan sederhana dapat kita lihat peristiwa pengembunan pada botol minuman dingin ditempatkan pada udara suhu lebih panas dari suhu minuman.  Atau pada peristiwa pengembunan pada kaca kendaraan ketika hujan tiba.  Mengapa hal ini bisa terjadi ?.
Karena mengembun (dew) adalah proses fisika dimana air dalam wujud gas melepaskan ”panas” nya sehingga menjadi ”zat cair”.

Bagaimana uap tadi bisa melepas panas?, ya karena ”menempel” pada benda yang dingin.  artinya begitu uap air menyentuh benda dingin, maka ”panas” uap air itu ”pindah” ke benda dingin tersebut.





Semoga tulisan ini dapat membantu semua pihak yang mengoperasikan kandang tertutup dan memberikan kesuksesan dalam mengoperasikan kandang tertutup.  Serta memberi pemahaman secara urut dan sedikit lengkap terhadap siapa saja yang ingin mempelajari kandang tertutup.









Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cara kerja kandang close house"

Post a Comment